Minggu, 22 Mei 2016

Gunung Mistis, Gunung Lawu

Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 meter di atas permukaan air laut adalah salah satu gunung yang namanya sering saya dengar. Sejak kecil, Paman dan sepupu-sepupu saya sering bercerita tentang gunung itu. Entah kenapa pembicaraan mengenai Gunung Lawu selalu saja bersimpangan dengan hal-hal mistis. Walaupun saya suka mendaki gunung, wajar saja karena cerita-cerita itu, pendakian ke Gunung Lawu tidak pernah terlintas di benak saya.
Ghoffar, salah satu teman baik saya, menghubungi saya suatu siang. “Mbak, ikut, yuk, naik ke Gunung Lawu”. Saya mengiyakan ajakan tersebut dengan sumringah karena sudah lumayan lama tidak mendaki gunung. “Kapan?” tanya saya singkat setelahnya. “Nanti malam jam 7-an jalan dari Yogya,” jawab Ghoffar santai.
Dadakan banget!” gerutu saya kepada Ghoffar. Setelah pertimbangan matang selama satu jam dan diiming-imingi jaminan bahwa semua perbekalan kelompok sudah beres, hanya perlu mengurus perlengkapan pribadi, akhirnya saya ikut serta dalam pendakian itu. Kami mendaki berenam dan berencana menginap satu malam di basecamp, untuk aklimatisasi, dan satu malam di Gunung Lawu.
Ada dua jalur utama untuk memulai pendakian Gunung Lawu. Satu melewati Cemoro Kandang di Jawa Tengah dan satu lagi melewati Cemoro Sewu, basecamp pendakian yang terletak di Jawa Timur. Gunung Lawu terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kedua basecamp ini, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu, hanya berjarak sekitar 300 meter saja.
Teman-teman pendakian
Teman-teman pendakian
Istirahat sejenak saat menuruni jalur Cemoro Sewu
Istirahat sejenak saat menuruni jalur Cemoro Sewu
Riang gembira saya berjalan menyusuri jalur pendakian, saya lupa kalau Lawu adalah si gunung menyeramkan itu. Setelah berjalan selama hampir dua jam, kami tiba di Pos 2 (Taman Sari Atas). Pendakian terbilang santai, kami akhirnya tiba di Pos 4 saat matahari mulai terbenam. Padahal, kami memulai pendakian dari pukul setengah sepuluh pagi.
Sepanjang Pos 3 sampai Pos 4, pemandangan cantik sungguh membuat kami terlena, berlama-lama berjalan, mengabadikan banyak gambar dengan kamera. Pemandangan, sunset, garis cakrawala yang mempertemukan lautan dan langit, bunga-bunga liar, saya tidak bisa benar-benar menggambarkan betapa indahnya di atas sana.
Hari perlahan mulai gelap, dingin semakin terasa, kami meneruskan perjalanan ke Warung Mbok Yem (Iya, ada warung di dekat puncak Gunung Lawu). “Semoga kita masih dapat tempat, ya, di Mbok Yem,” ujar salah seorang teman memecah kesunyian. Bagi beberapa pendaki, Warung Mbok Yem bak resort di puncak gunung.
Tungku api, warung kecil, menyajikan minuman panas dan beberapa makanan sederhana namun lezat seperti nasi pecel, dan ruang untuk istirahat meskipun hanya berupa rumah kayu sederhana. Semua hal ini membuat Warung Mbok Yem seperti resort. Mbok Yem adalah perempuan tua yang menjadikan Gunung Lawu sebagai rumahnya. Sayangnya, saat itu Mbok Yem tidak ada di rumah.
Dari Warung Mbok Yem menuju puncak hanya butuh waktu sekitar 30 menit dengan jalur pendakian yang cukup mudah. Puncaknya memang tidak seistimewa gunung berapi, tapi pemandangan dari puncak Gunung Lawu cukup menakjubkan. Kita bisa melihat barisan gunung di Jawa. Gunung Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing, dan Slamet. Terkadang Gunung Semeru juga bisa terlihat.
Gunung Lawu
Warung Mbok Yem
gunung lawu
Pemandangan di jalur Cemoro Kandang
Setelah turun dari puncak, menikmati sunrise dan sarapan, kami turun melalui jalur Cemoro Sewu mulai pukul 09.45 WIB. Sepanjang perjalanan kami bertemu banyak orang, tetapi bukan pendaki. Sekumpulan pria paruh baya mengenakan pakaian hitam dan sepatu putih. Mereka mengenakan syal batik untuk ikat kepala dan hanya membawa satu atau dua botol air minum. Orang-orang ini datang ke Gunung Lawu untuk berziarah, kata salah satu teman saya ketika melihat saya keheranan.
Perjalanan turun terasa sangat cepat, pemandangan jalur Cemoro Sewu tidak kalah dengan pemandangan jalur Cemoro Kandang. “Lumayan juga, ya, Mbak, kalau kita naik dari jalur ini,” ujar Ghoffar sambil meringis melihat turunan tiada henti, yang artinya adalah tanjakan tiada ampun kalau kami naik lewat jalur ini. Saya tersenyum saja menanggapi Ghoffar. Hati saya senang sekali karena memutuskan untuk ikut pendakian ini. Saya kangen gunung juga ternyata!
Terima kasih untuk pemandangan indah di sepanjang jalur pendakian, teman-teman mendaki yang menyenangkan, wWarung Mbok Yem untuk teh panas dan nasi pecelnya yang nikmat, saya sama sekali tidak ingat kalau Gunung Lawu adalah gunung menyeramkan yang selama ini saya hindari. Kami tiba di basecampCemoro Sewu sebelum jam 2 siang, dengan selamat, namun dengan kaki pegal-pegal. Sampai ketemu lagi, Gunung Lawu.

Gunung Tertinggi di Jawa Tengah






Gunung Slamet adalah gunung tertinggidi Jawa Tengah dan merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.432 mdpl. Pada masa penjelajahan dunia yang pertama Sir Frances Drake, seorang pelaut Inggris pada tahun 1580, ketika itu melihat Gunung Slamet dan segera mengarahkan perahunya dan berlabuh di Cilacap.

Gn. Slamet dapat didaki melalu tiga jalur, lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur Bambangan. Dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat Bambangan, selain pemandangannya indah juga banyaknya kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.


Jalur Pendakian Bambangan
Jalur Bambangan adalah jalur yang sangat populer dan merupakan jalur yang paling sering didaki. Route Bambangan merupakan route terpendek dibandingkan route Batu Raden dan Kali Wadas. Dari kota Purwokerto naik bus ke tujuan Purbalingga dan dilanjutkan dengan bus dengan tujuan Bobot sari turun di Serayu. Perjalanan disambung menggunakan mobil bak angkutan pedesaan menuju desa Bambangan, desa terakhir di kaki gunung Slamet.

Di dusun yang berketinggian 1279 mdpi ini para pendaki dapat memeriksa kembali perlengkapannya dan mengurus segala administrasi pendakian. Selepas dari jalan aspal perkampungan belok ke kanan, Pendaki akan menyeberangi sungai dengan cara melompat dari satu batu ke batu yang lain, bila sedang musim hujan aliran air deras akan menutupi batu-batuan ini. Selanjutnya akan melewati ladang penduduk selama 1 jam menuju pos Payung dengan keadaan medan yang terjal.

Pos Payung merupakan pos pendakian yang menyerupai payung raksasa dan masih berada di tengah-tengah perkebunan penduduk. Selepas pos Payung pendakian dilanjutkan menuju pondok Walang dengan jalur yang sangat licin dan terjal di tengah-tengah lingkungan hutan hujan tropis, selama kurang lebih2 jam. Selepas pondok Walang, medan masih seperti sebelumnya, jalur masih tetap menanjak di tengah panorama hutan yang sangat lebat dan indah, selama kira-kira 2 jam menuju Pondok Cemara.

Sebagaimana namanya, pondok Cemara dikelilingi oleh pohon cemara yang diselimuti oleh lumut. Selepas pondok Cemara pendakian dilanjutkan menuju pos Samaranthu. Selama kira-kira 2 jam dengan jalur yang tetap menanjak dan hutan yang lebat. Samaranthu merupakan pos ke 4. Kira-kira 15 menit dari pos ini terdapat mata air bersih yang berupa sungai kecil. Selepas Samaranthu, medan mulai terbuka dengan vegetasi padang rumput.

Pendaki akan melewati Sanghiang Rangkah yang merupakan semak-semak yang asri dengan Edelweiss di sekelilingnya, dan sesekali mendapati Buah Arbei di tengah-tengah pohon yang menghalangi lintasan pegunungan. Pendaki juga akan melewati Sanghiang Jampang yang sangat indah untuk melihat terbitnya matahari.

Kira-kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di Plawangan. Plawangan (lawang = pintu) merupakan pintu menuju puncak Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur.

Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan, di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan.

Di daerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki di pagi hari. Kebanyakan pendaki meninggalkan barang-barang mereka di bawah, untuk memperingan beban. Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu 30- 60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasa disebut dengan Segoro Wedi. Apabila kita ingin turun menuju jalur lain, misalnya Guci, pendaki harus melewati kompleks kawah untuk memilih jalur yang diinginkan.

Jalur Pendakian Kaliwadas

Kaliwadas merupakan sebuah dusun yang berketinggian 1850 mdpi dan masuk wilayah Desa Dawehan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, atau tepatnya berada pada barat daya lereng Gunung Slamet. Untuk menuju Kaliwadas dapat ditempuh dari kota Bumiayu menuju Pangasinan dengan menggunakan Angkutan Pedesaan jenis Colt yang memakan waktu 2 jam. Setiba di Pasar Pangasinan, perjalanan dilanjutkan menuju Kaliwadas dengan menggunakan Jeep Hardtop atau menggunakan angkutan umum jenis kendaraan terbuka yang beroperasi hingga pukul 18.00 wib.

Pendaki dapat menyiapkan segala perbekalan dan perizinan dari Kaliwadas ini. Kira - kira 300 m selepas jalan desa, pendaki diarahkan menuju jalan setapak. Satu jam kemudian pendaki akan melewati Tuk Suci yang oleh penduduk setempat diartikan sebagai mata air suci. Di Tuk Suci ini terdapat aliran air yang dibendung, yang berfungsi sebagai pengairan desa di bawahnya. Selepas Tuk Suci, medan mulai menanjak menembus lorong-lorong tumbuhan Bambu yang berukuran kecil. Penduduk sekitar menyebutnya Pringgodani. Enam puluh menit kemudian pendaki akan tiba di pondok Growong.

Pondok Growong merupakan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Di sekitar area ini banyak ditemukan pohon besar yang di bawahnya terdapat lubang berukuran cukup besar. Selepas pondok Growong lintasan relatif datar sampai pada sebuah jembatan kecil yang bemama taman Wlingi, yang berada di ketinggian 1953 mdpl. Di daerah ini terdapat persimpangan, lintasan yang lurus dan lebar menuju ke Sumur Penganten. Berjarak 500 m dari area terdapat sumber air, yang juga merupakan sebuah tempat keramat di mana banyak peziarah yang datang untuk meminta berkah.

Jalur ke kiri merupakan lintasan yang menuju ke puncak. Keadaan lintasan semakin menanjak. Di sepanjang lintasan mulai banyak dijumpai pohon tumbang dan pohon penyengat. Lintasan kadang tertutup oleh semak belukar sehingga pendaki harus waspada agar tidak tersesat. Lintasan mulai kembali melebar ketika pendaki melewati persimpangan Igir Manis yang berada di ketinggian 2600 mdpl. Di sekitar area ini akan didapati tetumbuhan Adelweiss dan tetumbuhan Arbei. Setelah itu pendaki akan sampai di Igir Tjowek yang berada di ketinggian 2750 mdpl. Daerah ini masuk kawasan Gunung Malang. Di sini terjadi pertemuan jalaur ini dengan jalur Baturaden. Beberapa meter kemudian barulah pendaki tiba di Plawangan.

Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kira-kira 2 jam. Pendaki dapat berangkat pagi agar dapat menikmati keadaan puncak dan sekitamya dalam keadaan cuaca cerah. Selepas Plawangan lintasan semakin tajam hingga mencapai sudut pendakian 60. Selanjutnya keadaan lintasan semakfn parah dengan medan bebatuan vulkanik yang mudah longsor. Bau belerang terasa menyengat dari kawah ketika pendaki tiba di puncak bayangan. Setiba di daerah ini, pendaki tinggal melipir pada gigir kawah menuju arah timur.

Setelah melewati Tugu Surono yang berupa tumpukan batu, pendaki akan sampai di puncak tertinggi  Gunung Slamet yang ditandai dengan patok triangulasi dan tower. Dulu tempat ini juga digunakan sebagai pemantauan aktivitas gunung api ini. Di puncak tertinggi kedua se-Jawa ini pendaki dapat menyaksikan pemandangan pada arah timur. Tampak beberapa puncak seperti Gunung Sumbing, Sundoro, Merbabu, Merapi, dan puncak Ciremai di arah barat. Semuanya berdiri kokoh sekan-akan menjadi pasak bumi Pulau Jawa.

Jalur Pendakian Batu Raden

Dari kota Purwokerto menuju tempat wisata Batu Raden menempuh jarak 15 km arah utara dan dapat ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan Angkutan umum. Batu Raden yang merupakan daerah wisata yang terkenal dengan Pancuran Telu dan Pitu ini berada di ketinggian 760 mdpl. Pancuran tersebut merupakan aliran mata air panas yang mengandung belerang. Jalur ini merupakan jalur tersulit dan jarang dilalui pendaki.

Terbentang di sebelah selatan kaki Gunung Slamet pada ketinggian sekitar 640 m di atas permukaan laut. Baturraden terletak hanya 14 km dari Kota Purwokerto yang dihubungkan dengan jalan yang memadai. Di tempat wisata ini Anda dapat menikmati pemandangan indah & udara pegunungan yang segar dengan suhu 18 Celcius 25 Celcius. Sedangkan Gunung Slamet dengan ketinggian 3.428 m, merupakan gunung berapi terbesar dan gunung tertinggi ke-2 di Jawa.

Jika cuacanya bagus, Kota Purwokerto dapat terlihat dari Baturraden, begitu juga dengan Cilacap dan Nusa Kambangan. Ketika kita melihat gunung Slamet, kita dapat melihat lereng gunung Slamet yang ditutupi oleh hutan Heterogen. Taman Rekreasi di Baturraden menyajikan alam pegunungan & lembah sunyi yang dihiasi air terjun serta sumber air panas Belerang dan Pancuran. Di tempat ini juga dapat dinikmati berbagai mainan anak, menara pandang, Taman Botani, Kolam Renang. Tempat pemandian air panas, Kintamani, kolam luncur, sepeda air, kereta gantung, & kebun binatang Widya Mandala.

Selepas pal Taman Wisata Batu Raden, lintasan berbelok ke kanan dan menurun. Dalam perjalanan menuju pos I banyak ditemui cabang lintasan, yang merupakan jalan tikus yang banyak dibuat oleh penduduk setempat. Di tengah perjalanan pendaki akan melewati sebuah sungai. Setelah itu lintasan kembali datar dengan sajian jurang yang menganga pada sisi kanan lintasan. Untuk sampai di pos I dibutuhkan waktu selama 3 jam.

Selepas pos I lintasan mulai menanjak dengan sajian hutan yang rimbun dan asri, selama 2 jam. Untuk sampai di pos III dibutuhkan waktu selama 3 jam dengan lintasan yang tidak begitu menanjak. Vegetasi di pos III masih dalam kungkungan hutan hujan Tropis. Selepas itu pendaki akan melipir pada sebuah punggungan tipis yang berada di ketinggian 1664 mdpl. Daerah tersebut bemama Igir Leiangar. Selepas pos IV, tepatnya di puncak Gunung Malang, akan ditemui persimpangan dengan jalur Kaliwadas. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Plawangan, lalu berbelok ke kanan menuju puncak Slamet.

Sumber bisa langsung baca di link berikut http://www.catatanhariankeong.com/2013/03/jalur-pendakian-gunung-slamet.html#ixzz49MnxR5j6

Sabtu, 21 Mei 2016

Pantai Indrayanti, Yogyakarta


inilah satu lagi wisata pantai di Yogyakarta yang patut Anda kunjungi dari Kabupaten Gunungkidul. Pantai Indrayanti, begitu masyarakat lokal ataupun kalangan wisatawan menyebut pantai yang indah dan romantis ini.
Nama pantai ini terdengar sedikit aneh, sebab namanya lebih mirip nama wanita Jawa. Pantai yang terletak di Dusun Ngasem, Desa Tepus, Gunungkidul ini berdekatan juga dengan destinasi populer lainnya di Gunungkidul Jogja, seperti Pantai Baron dan Pantai Krakal.
Lokasi Pantai Indrayanti Gunungkidul terletak tepat di sisi timur Pantai Sundak. Keduanya dibatasi oleh perbukitan karang. Pantai Indarayati menawarkan keindahan panorama yang unik dibanding pantai-pantai lain di Gunungkidul. Tidak hanya bentang pasir putih yang mempesona atau megahnya perbukitan batuan karang, jernihnya air laut yang terlihat biru bersih seolah mengajak para wisatawan untuk berenang dan berbaur di dalamnya.
Keadaan alami dan bersih di Pantai Indrayanti
Keadaan alami dan bersih di Pantai Indrayanti Gunungkidul
Air laut di Pantai Indrayanti ini memang sungguh bersih, jernih, dan alami karena belum terkontaminasi oleh aneka limbah. Inilah sebab para penikmat perjalanan selalu menyukai untuk berenang dan bermain-main air di Pantai Indrayanti tersebut.

Nuansa Romantis di Pantai Indrayanti

Saat malam hari tiba, Pantai Indarayanti Gunungkidul mampu menghadirkan suasana yang berbeda. Gazebo-gazebo yang berjajar di pinggir pantai terlihat sungguh indah dengan diterangi kerlip redup sinar lampu.
Jika Anda datang bersama dengan kekasih atau pasangan, Anda dapat temukan nuansa romantisme yang kental di kawasan pantai tersebut. Pengalaman ini terasa lengkap saat bersantap malam bersama orang tercinta, ditemani sepoi angin laut dan suara ombak. Sungguh sebuah memori indah!
Gazebo di Pantai Indrayanti
Gazebo di Pantai Indrayanti Jogjakarta
Selepas menikmati sajian kuliner di cafe atau restoran yang ada di Pantai Indrayanti, Anda dapat mencoba pengalaman lain dengan berjalan menuju bukit di arah timur. Di sini tidak ada jalan khusus, artinya Anda harus sedikit ekstrim dengan menerobos semak dan perdu serta sesekali memanjat karang. Mungkin akan sedikit melelahkan, tetapi ketahuilah bahwa semua akan terbayar tuntas tatkala Anda tiba di puncak bukit tersebut.
Dari puncaknya, Anda dapat menyaksikan bentang Samudera Hindia yang begitu luas terhampar sepanjang horizon yang terlihat. Burung camar sesekali terbang melintas dengan paruh membawa ilalang untuk membuat sarang diselingi desau angin laut dan deru ombak, sungguh laksana orchestra alam yang sungguh menawan hati. Indah dan menenangkan. Saat senja tiba, di sinilah spot terbaik untuk mendapatkan sunset di Pantai Indrayanti yang paling menawan.

Kawah Ijen, Banyuwangi




Tidak dapat dipungkiri lagi, pesona kawah ijen yang merupakan danau terbesar dipulau jawa ini memang menjadi salah satu wisata yang wajib anda kunjungi ketika anda singgah ke kota Banyuwangi. Kawah yang merupakan danau terasam di dunia ini berada di ketinggian kurang lebih 2.387m diatas permukaan laut. Dengan kedalaman 200m dan kawah yang berbentuk elips yang berukuran sekitar 965 x 630m yang mengandung kurang lebih 35 juta meter kubik air asam.
Berbagai macam dan warna batu belerang dapat anda jumapi ketika anda di Kawah ijen tersebut. Tak sedikit orang menyebut kawah ijen sebagai wisata batu belerang yang sanggat indah, selayaknya pemandangan di puncak gunung pada umumnya, anda dapat melihat hamparan pemandangan arah selat bali. Juga berbagai gunung yang berada disekitar kawah ijen tersebut. Anda juga dapat menemukan bunga Edelweis yang cantik pada bulan Juni sampai dengan bulan September .

Kebanyakan dari mereka yang mendaki tujuannya adalah blue fire. Apa itu blue fire ? seperti namanya sendiri blue fire di ambil dari kata ‘’blue’’ yang berarti biru dan ‘’fire’’ yang berarti api, maka dari itu blue fire dapat kita simpulkan adalah api biru. Banyak peneliti dari luar negeri yang dating ke banyuwangi hanya untuk menyaksikan keindahan blue fire ini serta menjadikannya objek penelitian yang sanggat langka di dunia. Blue fire itu sendiri terjadi karena semburat belerang cair dari kawah ijen tersebut. Untuk menyaksikan blue fire tersebut anda harus melakukan pendakian setidaknya pukul 01.30 dari pos paltuding

Tak hanya itu saja pesona kawah ijen, pemandangan yang sangat langka ketika anda menyaksikan banyaknya para penambang belerang yang silih berganti naik dan turun di lereng Kawah Ijen. Ratusan penambang belerang  membawa batu batuan belerang berwarna kekuningan. Dengan dibantu alat yang berupa keranjang yang terbuat dari bambu dan memikulnya penambang belerang tersebut menapaki lereng kawah ijen dengan perlahan.berdasarkan beberapa narasumber beban yang di pikul para penambang itu sendiri sekitar 90kg – 130kg. salah satu pemandangan yang terjadi secara alami di kawah ijen setiap hari.


Jalan menuju kawasan kawah ijen sendiri terbilang sangat baik karena jalan yang sudah di benahi pemerintah setempat, Untuk masalah Akomodasi, anda tidak direpotkan untuk membawa bekal karena di paltuding terdapat banyak warung yang menjual kebutuhan anda dalam pendakian ke kawah ijen, penginapan juga tersedia disana serta area perkemahan yang luas tersedia disana sehingga memudahkan anda untuk sejenak beristirahat menuju ke kawasan kawah ijen.

Goa Gong, Pacitan

Di Jawa Timur adalah salah satu tempat wisata di Pacitan yang populer dan memegang predikat sebagai wisata goa terindah se-Asia Tenggara. Pesona Goa Gong Pacitan ini bersumber dari panorama indah stalaktit dan stalagmit yang dapat Anda temui tatkala menyusuri goa tersebut selama kurang lebih 2 jam.

Secara geografis, Kabupaten Pacitan terletak di wilayah barat daya Jawa Timur, memiliki bentang alam yang tersusun dari pengunungan kapur yang kurang subur untuk dijadikan lahan pertanian. Kandungan hara yang dimiliki tanah di wilayah Pacitan ini termasuk sedikit, dengan demikian kriteria tanah di Pacitan tergolong  gersang. Kontur ketinggian tanah di wilayah Pacitan secara umum justru lebih membuka potensi wisata alam, salah satunya Goa Gong Pacitan ini.
Goa Gong secara administratif berada di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, berjarak sekitar 37 km arah barat dari pusat kota Pacitan. Objek wisata goa di Jawa Timur yang satu ini dikelilingi oleh pegunungan, sebelah utara adalah gunung Manyar, sebelah selatan gunung Karang Pulut, sebelah timur Gunung Gede, dan sebelah barat adalah gunung Grugah. Keempat gunung ini adalah gunung non-aktif.
Stalaktik dan Stalagmit Goa Gong di Pacitan
Stalaktit dan Stalagmit Goa Gong di Pacitan
Goa Gong Pacitan memiliki kedalaman goa sepanjang 256 meter dan memiliki stalakmit dan stalaktit berumur ratusan tahun. Goa ini muncul sebagai akibat dari aktivitas vulkanik dan gerakan termik yang diperkirakan berlangsung ratusan hingga ribuan tahun silam.
Berdasarkan kisah masyarakat lokal, goa ini dinamai sebagai Goa Gong adalah karena masyarakat kerap mendengar adanya suara gema tabuhan seperti suara gong yang berasal dari dalam goa. Gong adalah salah satu alat tabuh dalam kesenian gamelan Jawa. Suara seperti gong dari dalam goa ini adalah hasil dari pantulan tetesan air alam goa yang menimpa batuan stalaktit atau stalagmit goa tersebut. Bunyi yang dihasilkannya terdengar harmonis dan indah, bahkan jika Anda berada di pintu masuk goa tersebut.
Jika Anda ingin menikmati pesona Goa Gong Pacitan yang sungguh kaya akan keindahan stalaktit (mineral sekunder yang menggantung di langit goa) dan stalagmit (batuan kapur yang berbentuk meruncing dan terdapat di lantai goa), Anda dapat masuk ke dalamnya dengan membayar tiket masuk Goa Gong sebesar Rp 5 ribu per orang.
Pesona Goa Gong di Pacitan
Pesona Goa Gong di Pacitan
Stalaktit dan stalagmit di Goa Gong Pacitan ini akan mengalami pertumbuhan memanjang melalui proses alami akibat reaksi oksidasi atau reaksi kimia antara udara dengan air. Rata-rata pertumbuhan panjang stalaktit dan stalakit di goa ini berkisar antara 0.1 hingga 0.13 mm per tahun.
Saat mengunjungi Goa Gong Pacitan, Anda akan diajak menyusuri tangga dan menyaksikan berbagai pemandangan gong cave, shawl drappery (stalaktit yang meneteskan air), rekahan endapan kalsium, dan tetesan air di ujung-ujung goa yang membentuk laksana danau kecil.

Pilar-pilar stalagmit tumbuh menjulang tinggi dan terlihat saling bertumpuk satu sama lain, menyuguhkan panorama ukiran batuan yang hidup bersama dengan tetesan air yang tak pernah kering. Anda tidak perlu khawatir akan gelap saat menyusuri kedalaman Goa Gong Pacitan ini karena bagian-bagian goa telah dilengkapi dengan lampu warna-warni yang turut menambah keindahan dalam goa.
Tangga menyusuri Goa Gong Pacitan
Tangga menyusuri Goa Gong Pacitan
Ketika menyusuri goa, Anda sebaiknya tetap berhati-hati karena genangan air yang menetes dari stalakmit menjadikan lantai goa ini cukup licin. Anda mungkin akan mudah terpeleset jika tidak berhati-hati melangkah.
Setelah penyusuran selesai dan Anda keluar dari dalam goa, Anda melihat banyaknya pedagang yang menjajakan dagangan, mulai dari aneka makanan, minuman, hingga souvenir foto goa atau lukisan wajah yang dapat Anda bawa pulang sebagai cinderamata. Umumnya harga yang ditawarkan untuk souvenir ini berkisar dari Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu per item.
Pintu masuk Goa Gong
Pintu masuk Goa Gong
Jika Anda ingin membeli kaos atau cinderamata lainnya, Anda dapat menemukannya pada stand-stand di arah keluar Goa Gong Pacitan. Harga yang ditawarkan cukup variatif, secara umum masih dapat terjangkau. Di Indonesia, pengalaman wisata goa juga dapat Anda temui di Goa Pindul Jogjakarta.

Pantai Sendiki, Malang



Berwisata ke pantai alami ini, wisatawan bisa berjalan menyusuri Pantai Sendiki. Wisatawan akan menjumpai pemandangan yang unik, sebagian berupa pemandangan pantai dan sebagiannya lagi berupa hutan. Oh ya buat kamu guys yang ingin berwisata kesini, kamu harus membawa bekal makanan sendiri. Karena situasi pantai masih sepi, sehingga masih jarang ditemukan penjual makanan dan minuman. Untuk bisa sampai ke lokasi pantai, kamu hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi roda 2 atau roda 4. Karena belum tersedia transportasi umum yang menuju lokasi pantai. Perjalanan memakan waktu 2 jam menggunakan mobil, dan 3 jam menggunakan mobil. Jarak tempuhnya sekitar 60 Km dari Kota Malang.




Kamu bisa mengikuti rute menuju Pantai Tamban, yaitu dari Kota Malang – Pakisaji – Kepanjen – Gondang Legi – Turen – Sumbermanjing Wetan – Desa Tambak Rejo – Pantai Tamaban. Sesampainya di Pantai Tamban, kamu harus menuruni jalan. Setelah itu berbelolah ke kanan, sampai menemui pertigaan. Dari pertigaan berbeloklah ke kiri, sekitar 50 meter kamu akan menemukan pos kamling sederhana yang terbuah dari bambu, setelah itu berbeloklah ke kanan. Kamu akan menemukan jalanan sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor, jadi buat kamu yang membawa mobil sebaiknya diparkirkan di rumah penduduk sekitar. Berhasil melewati jalanan sempit, kamu harus berjalan kaki menyusuri persawahan dan hutan sekitar 3 KM. Selanjutnya kamu akan menemukan pepohonan ketapang, yang artinya lokasi Pantai Sendiki sudah dekat. Sekitar 100 meter di pepohonan ketapang, kamu akan mendengar deburan ombak pantai eksotis ini. Nah sampailah kamu di pantai yang menakjubkan ini.

Di Pantai Sendiki kamu bisa melakukan kegiatan pantai, seperti bermain air pantai, bermain pasir, atau hanya sekedar menikmati pemandangan yang sungguh-sungguh menakjubkan. Bosan dengan pantai ini, kamu bisa mengunjungi pantai yang berada didekatnya, seperti Pantai Tamban, Pantai Sendang Biru, Pantai Gua Cina, dan Pantai Balekambang.

Pantai Klayar, Pacitan

Pantai Klayar Pacitan, disini kalian bisa menemukan pesona dan keunikannya pada hamparan pasir yang putih, adanya karang raksasa laksana Sphinx, air mancur alami hingga setinggi 10 meter, serta bebatuan karang dengan bentuk yang unik dan suguhan seruling samudera.

Pantai Klayar adalah salah satu pantai di Jawa Timur yang menawan.
Pesona panorama pantai Klayar yang menawan ini adalah tempat liburan recommed banget. Tapi sangat disayangkan karena ada sejumlah bagian jalan yang belum teraspal secara utuh serta beberapa bagiannya yang rusak.




Jalanan yang berkelok-kelok dan naik turun, menghahruskan kita untuk lebih berhati - hati. Tapi setiba di pantai, semua pengorbanan perjalanan yang ditempuh akan terbayar puas. Karea di pantai ini disuguhkan pemandangan pantai yang sangat indah dan yang mempunyai beberapa keunikan.
Pantai Klayar memiliki banyak tebing dan beberapa tebingnya  bolong akibat terjangan ombak, juga jejaran pohon kepala di kawasan pantai. 

Satu hal yang harus diingat adalah adanya larangan untuk tidak diperbolehkan berenang di pantai ini, karena  ombak yang tergolong besar serta banyaknya tebing.

Di pantai Klayar, ada hal yang unik, yakni seruling samudra. Seruling samudera ini adalah sebutan untuk fenomena di mana ada cekungan yang ada pada bagian bawah tebing atau batuan yang ada di pantai. Saat cekungan ini diterjang ombak laut, maka air laut keluar menyembur ke permukaan melalui sela-sela berbatuan dan menghasilkan bunyi yang indah seperti bunyi seruling.




Dan hal unik lainnya adalah kita bisa menjumpai patung yang menyerupai bentuk Sphinx seperti yang ada di Mesir. Keunikan ini terbentuk akibat banyaknya tebing-tebing tinggi di kawasan pantai Klayar yang jika dilihat dari kejauhan, menyuguhkan pemandangan seperti  patung Sphinx. Kita juga bisa menaiki tebing ini, tapi tetap denga kewaspadaan demi keselamatan diri sendiri karena tebing ini tergolong curam dan tinggi.